Tertarik juga

Tampilkan postingan dengan label Adab-adab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab-adab. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Juni 2019

Hukum Membuang Kucing Dalam Islam dan Dalilnya

Hukum Membuang Kucing Dalam Islam dan Dalilnya



Kucing merupakan hewan yang sangat lucu dan juga menggemaskan. Namun tidak sedikit orang yang merasa risih ketika ada kucing yang berkeliaran di sekitar rumahnya. Pada akhirnya banyak dari mereka yang mengambil kucing tersebut untuk dibuang ke suatu tempat agar tidak kembali lagi.

> Pandangan Islam tentang Membuang Kucing

Di dalam Islam membuang kucing tanpa merawatnya terlebih dahulu sebenarnya tidak diperbolehkan. Banyak kucing yang menjadi nakal dan suka mencuri makanan yang ada di rumah dikarenakan anda tidak ada itikat baik sama sekali untuk memberi sedikit makanan sisa.

Alangkah baiknya sama – sama makhluk ciptakan Allah untuk saling membantu. Apabila anda membagikan sedikit makanan atau pun makanan sisa, pastinya kucing yang sering berkeliaran di sekitar rumah anda akan segan untuk mencuri. Jika anda ingin membuangnya setidaknya pada saat kucing itu masih kecil, rawatlah dengan baik. Merawat disini tidak selalu harus membawanya ke dalam rumah. Biarkan saja berkeliaran di luar rumah saja. Berilah makanan setiap hari, meskipun itu makanan sisa.

Kucing yang masih kecil tentunya belum pandai mencari makanannya sendiri. Setelah ia mulai besar dan sudah mulai bisa mencari makanannya sendiri. Anda diperbolehkan untuk membuangnya. Walaupun anda membuangnya setidaknya ia sudah bisa bertahan hidup dan beradaptasi dengan lingkungan baru.

Dalam hal membuang atau memindah tempatkan kucing, jika tidak ingin kucing itu kembali lagi, maka sebaiknya melebihi radius antara 100 sampai 150 meter dari rumah anda. Di bawah radius itu pasti kucing akan sangat mudah kembali lagi.

Namun hal yang perlu anda perhatikan adalah pemilihan lokasi yang tepat pada saat memindahkan kucing. Sebaiknya pilihlah tempat yang mudah dalam mencari makan. Misalnya yang dekat dengan warung makan, area pasar, dan lain sebagainya. Hindari membuang kucing di hutan. Itu artinya sama saja anda menyusahkan dan menyiksa kucing tersebut.

Meneladani Sahabat Rasulullah Abu Hurairah

Berbicara mengenai kucing, pasti kalian tau sahabat Rasulullah yang sangat suka dan telaten dalam hal merawat kucing. Ya benar Abu Hurairah. Beliau memang sudah dikenal sebagai sahabat Rasulullah yang sangat suka terutama dengan anak – anak kucing.

Dengan adanya kondisi semacam ini, maka Rasulullah memberikan pengakuan kepada sahabatnya tersebut sehingga mewajibkan untuk memelihara kucing. Tidak ditemukan satu riwayat pun yang menjelaskan bahwa dengan memelihara kucing tersebut beliau menjadi menyusahkan bahkan merepotkan para tetangganya.

Justru, dalam hal ini bagi siapa saja yang mempunyai keinginan untuk meniru hobi baik dari sahabat Rasulullah Abu Hurairah ini wajib baginya untuk melaksanakan hak-hak yang harus diberikan kepada kucing sebagai hewan dan juga hak untuk tetangga agar tidak direpotkan.

Hadits mengenai kewajiban dalam mencintai dan mengasihi binatang, penjelasannya sebagai berikut :

“Apakah engkau tidak takut kepada Allah mengenai binatang ini, yang telah diberikan kepadamu oleh Allah? Dia telah melapor kepadaku bahwa engkau telah membiarkannya lapar dan membebaninya dengan pekerjaan-pekerjaan yang berat.” (Imam Abu Dawud : 1/400)

“Naikilah binatang-binatang tunggangan ini dalam keadaan selamat, dan lepaskanlah mereka dalam keadaan selamat pula. Janganlah kalian jadikan mereka sebagai kursi.” (Imam Hakim 1/444, 2/100)

“Hindarilah menjadikan punggung-punggung binatang piaraanmu sebagai mimbar. Sebab Allah SWT menaklukkannya bagi kalian adalah agar kalian dapat mencapai daerah yang sulit dicapai kecuali dengan memayahkan diri. Dan Dia telah menciptakan bumi untuk kalian, maka penuhilah kebutuhan kalian di atasnya.” (Imam Abu Dawud nomor: 2561)

“Rasulullah keluar untuk memenuhi suatu keperluan. Kemudian melihat seekor onta yang diderumkan di depan pintu masjid sejak siang hari. Namun sore harinya beliau melihatnya masih dalam keadaan yang sama. Melihat keadaan ini, beliau bertanya: “Dimanakah pemiliki onta ini? Cari dia!” Ternyata tidak ada, lalu beliau bersabda: “Bertaqwalah kepada Allah dalam (memelihara) binatang ini. Tunggangilah dalam keadaan baik dan dalam keadaan gemuk.” Saat itu beliau seperti baru saja marah.” (Ibnu Hibban : 844)




Banyak orang yang mempunyai alasan tertentu sehingga terpaksa memindahkan kucing dari tempat satu ke tempat lainnya. Salah satunya adalah karena populasi kucing yang ada di lingkungannya sudah sangat banyak. Sehingga terkadang sangat mengganggu.

Dengan banyaknya kucing yang ada, tidak sedikit pula yang mengeluh karena sudah tidak mampu untuk memberinya makan. Sehngga solusi terbaiknya adalah memindahkan kucing – kucing tersebut ke tempat yang mampu menyediakan makanan. Saya kira hal ini tidak menjadi masalah karena niatnya pun baik. Tidak menyia – nyiakan kucing tersebut.

Himbauan Bagi Anda yang Ingin dan Akan Membuang Kucing

Berikut ini bisa anda simak mengenai himbauan yang layak anda pertimbangkan sebelum memutuskan untuk membuang kucing, yuk simak bersama – sama!

Survei Lokasi Terlebih Dahulu

Survei lokasi sangat diperlukan sekali. Hal ini dilakukan untuk mengetahui tempat yang akan kita pilih apakah terdapat sumber makanan yang mudah didapatkan atau tidak. Jika sulit ditemukan makanan, sebaiknya urungkan niat untuk membuang ke tempat tersebut. Carilah tempat lain yang lebih layak untuk bertahan hidup.

Carilah Orang Yang Mau Memelihara Kucing

Tindakan ini sangat tepat untuk dilakukan. Dengan mencari seseorang yang mau memelihara kucing, setidaknya anda telah memberikan peluang besar kepada kucing untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan tentunya nyaman.

Jika anda mempunyai kemauan pasti akan ada jalan. Apalagi zaman sekarang ini sangat mudah untuk mendapatkan informasi dengan cepat. Manfaatkanlah media sosian dengan memotret kucing, kemudian menguploadnya ke media sosial dengan catatan – catatan yang membuat calon pemelihara menjadi tertarik. Menurut saya hal ini sangat efektif untuk dilakukan.

Carilah Komunitas dan Relawan Yang Mau Memelihara Kucing

Nah ini dia yang jauh lebih berpeluang besar mensejahterakan kehidupan kucing – kucing kampung. Komunitas pecinta kucing atau pun relawan pecinta kucing bisa anda temukan dengan mudah di media sosial.

Carilah informasi sebanyak – banyaknya yang berhubungan dengan komunitas ini. Setelah anda mendapatkan informasinya, segeralah hubungi kontak yang tercantum. Konsultasikan kesulitan – kesulitan anda sehari – hari. Yakinkanlah mereka sehingga mau mengadopsi kucing – kucing tersebut.

Jangan Buang Kucing Yang Masih kecil

Membuang kucing yang masih kecil, tentunya akan sangat beresiko terhadap kelangsungan hidup kucing tersebut. Sudah bisa ditebak kan, kucing yang masih kecil pasti masih membutuhkan asupan susu dari induknya. Untuk itu disarankan tunggu terlebih dahulu sampai kucing tersebut tumbuh dewasa dan bisa hidup secara mandiri.

Jangan Buang Kucing Yang Terlihat Sakit

Lebih baik anda merawatnya terlebih dahulu saat kucing di sekitar lingkungan anda terlihat sakit. Berilah makan terlebih dahulu secara rutin, meskipun itu memberikan makanan sisa. Setelah ia terlihat lebih gemuk dan sehat, barulah anda melanjutkan niat tersebut.

Perlu diingat bahwa ketika anda memutuskan untuk merawat kucing dengan memberinya makan setiap hari, hal ini merupakan suatu tindakan yang mendatangkan pahala bagi anda. Karena merawat kucing itu tidak harus membaanya ke rumah.

Kucing yang ada di sekitar rumah anda, jika mendapat perhatian dan kasih sayang, tanpa anda minta mereka akan selalu berada di dekat rumah anda. Terlebih lagi saat anda keluar rumah, kucing tersebut akan mengikutinya.

Jadi dapat diambil kesimpulan bahwa artikel mengenai hukum membuang kucing dalam islam menurut saya jika kucing tersebut tidak termasuk dalam kucing yang dapat membawa kemudharatan, maka sebaiknya anda membiarkan saja ia hidup dan berkeliaran di sekitar rumah anda hanya untuk sekedar mencari makan.

Saya yakin dengan adanya kucing tersebut berkeliaran di sekitar rumah anda, justru akan lebih aman dan bisa mengendalikan populasi tikus-tikus serta serangga yang mungkin malah sangat mengganggu tetangga – tetangga sekitar.



Minggu, 30 Desember 2018

Doa bagi Ibu Hamil

Doa Ibu Hamil




semua orang tua pasti menginginkan untuk memilik anak yang baik, sholeh dan sholehah, karna mereka sadar bahwa anak adalah penerus dari orang tua nya, anak juga yang menjadi cerminan pertama kali masyarakat dalam memandang suatu keluarga dalam membesarkan dan mendidik anaknya. 

oleh karna itu banyak sekali hal yang dapat dilakukan orang tua didalam mendidik anak nya, baik itu memasukkan nya di sekolah formal maupun non formal. tapi kita tentu sudah mengetahui bahwa  didalam islam Allah swt telah memberikan kita doa-doa yang dapat kita amal kan baik itu menurut Al-Qur'an maupun sunnah dari Rasulullah saw. bagaimana kah doa-doa tersebut. Inilah beberapa doa yang dapat diamalkan bagi kita yang menginginkan anak yang baik terkhusus lagi bagi anda yan sedang mengandung.

1. doa nabi Muhammad saw

artinya : "Ya Allah, perbanyaklah hartaku dan anakku, serta berkahilah apa yang telah engkau karuniakan kapada nya, perbagus budi pekertinya, serta berkahilah saya." (HR. Bukhari)

Rasulullah saw pernah mendaokan anak dari Ummu Sulaim, yaitu Anas bin Malik radiyallahu 'anhuma . Doa ini di anjurkan oleh nabi Muhammad saw. guna memberikan kekayaan dan keturunan. jadi bagi anda yang belum dikarunia kan anak hingga saat ini tidak ada salahnya bila mengamal amalan ibu hamil yang dianjurkan tersebut.


2. Al-Furqon ayat ke- 74



artinya : " Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami, istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam bagi orang-oran yang bertakwa".

untuk doa yang satu ini juga sangat bagus untuk di baca oleh para suami yang mendoakan istrinya ketika masa kehamilannya.

3. doa nabi Ibrahim 'Alaihis Salaam

artinya : "Ya Rabbku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk oran-orang yang sholeh" (Q.S. Ash Shafaat ayat 100).

jadi para bunda sekalian jangan pernah ragu untuk berdoa dengan amalan doa untuk ibu hamil ini. karena doa ini adalah doa yang selalu diamalkan oleh Nabiyullah Ibrahim as.


inilah beberapa doa yang dapat bunda maupun suami amalkan, semoga memberikan manfaat aamiin.


Jumat, 10 Agustus 2018

Hukum mendahului Imam Saat Sholat

Mendahului Imam secara Sengaja dalam Shalat




Di antara tabiat manusia adalah tergesa-gesa dalam tindakannya. Allah berfirman yang artinya :

"Dan manusia bersifat tergesa-gesa." (Al-Isra':11).

Dalam shalat jamaah, sering orang menyaksikan di kanan kirinya banyak orang yang mendahului imam dalam rukuk, sujud, takbir perpindahan, bahkan mendahului salam imam. Mungkin dengan tak disadari, hal itu juga terjadi pada diri sendiri.

Perbuatan yang barangkali dianggap persoalan remeh oleh sebagian besar umat islam itu, oleh Rasulullah Saw. Diperingatkan dan di ancam secara keras dalam sabda Beliau, yang artinya:

"Tidakkah takut orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam, bahwa Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai?" (HR.Muslim).

Dahulu para sahabat r.a sangat berhati-hati sekali untuk tidak mendahului Nabi Saw. Salah seorang sahabat bernama al-Bara' bin Azib r.a berkata:


"Sungguh mereka(para sahabat) shalat di nelakang Rasulullah Saw, maka jika beliau mengangkat kepalanya dari rukuk (dan para sahabat juga mengangkat kepala mereka), saya tidak melihat seorang pun yang mwmbungkukkan punggungnya sehingga Rasulullah Saw, meletakkan keningnya di atas lantai (tanah), baru orang-orang yang berada di belakangnya bersimpuh sujud (bersamanya). (HR.Muslim).

Maka sungguh jelaslah perumpamaan seseorang yang dengan sengaja mendahului imam shalat. Meskipun ini di anggap sepeleh oleh kebanyakan orang namun ini juga salah satu bentuk dari dosa yang cukup besar.


Selasa, 19 Desember 2017

HUKum membawa Barang Nerlafazdkan Allah ke Dalam WC



Membawa Barang yang Bertuliskan Nama Allah kedalam Wc



Makruh hukumnya bagi seorang Muslim membawa barang yang bertuliskan nama Allah pada saat buang hajat karena untuk menghormati nama Allah Azza Wa Jalla dan kalam-Nya. Terkecuali jika dikhawatirkan barang dapat/akan hilang.


Ikrimah berkata, " Makruh hukumnya memabawa serta barang yang bertuliskan nama Allah ke dalam wc." 

Imam Ahmad berkata, "Makruh hukumnya membawa serta barang yang bertuliskan nama Allah ke dalam wc." 


Ibnu Qudamah berkata, "Ketika seseorang hendak masuk wc dan ia mengenakan suatu barang yang bertuliskan nama Allah, dianjurkan untik tidak membawa serta barang tersebut masuk kedalamnya (wc)."

An-Nawawi berkata, " Membawa serta barang yang bertuliskan nama Allah kedalam wc adalah makruh."  

Mujahid berkata, "Ibnu Abbas ra. ketika akan masuk wc ia selalu melepas cicinya." 

Minggu, 17 Desember 2017

Hukum menggunakan Benjana Perak & Emas!!



HUKUM MENGGUNAKAN BENJANA EMAS DAN PERAK

Hasil gambar untuk bejana emas dan perak
(bagaimana hukum menggunakan benjana emas dan perak.)

Orang yang hidup dalam kemewahan biasanya menggunalkan gelas perak atau sendok emas. Padahal, semua itu diharamkan berdasarkan hadits Hudzaifah ra, bahasannya Rasulullah saw. telah bersabda, "Janganlah kalian mengenakan pakaian sutra, minum dalam benjana emas atau perak, dan makan dalam nampan yang terbaut dari kedua jenis tersebut karena keduanya milik mereka didunia, sedangkan milik kalian di akhirat."  



Adapun yang dimaksud haidts diatas adalah orang-orang kafir bersenang-senang dengan benjana tersebut didunia, sedangkan orang-orang beriman akan bersenang-senang dengan benjana emas dari syurga yang murni di akhirat. Rasulullah saw. telah memberi kabar bahwa  orang yang makan atau minum menggunakan benjana emas atau perak, seolah-olah meminum yang namanya api neraka. Diriwayatkan dari Ummu Salamah ra. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda "barangsiapa minum dalam benjana emas atau perak maka sesungguhnya neraka jahannam membara dalam perutnya."

Hal ini merupakan larangan keras bagi umat muslim untuk tidak minum dan makan mengunakan benjana yang terbuat dari emas ataupun perak. 


TIDAK MENUTUP BENJANA PADA MALAM HARI


Gambar terkait


Sebagian orang ada yang membiarkan benjananya terbuka pada malam hari. Padahal, seharusnya ia menutup benjana tersebut seraya membaca bismillah karena hal itu merupakan anjuran agama. Jika tidak mendapatkan sesuatu untuk menutupinya, hendaknya menutupinya denggan kayu saraya membaca bismillah. Diriwayatkan dari Jabirra.bahwasanya Rasulullah saw. bersabda



إِذَا كَانَ جُنْحُ اللَّيْلِ أَوْ أَمْسَيْتُمْ فَكُفُّوا صِبْيَانَكُمْ ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْتَشِرُ حِينَئِذٍ ، فَإِذَا ذَهَبَ سَاعَةٌ مِنْ اللَّيْلِ فَخَلُّوهُمْ ، وَأَغْلِقُوا الْأَبْوَابَ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَفْتَحُ بَابًا مُغْلَقًا ، وَأَوْكُوا قِرَبَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ ، وَخَمِّرُوا آنِيَتَكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ وَلَوْ أَنْ تَعْرُضُوا عَلَيْهَا شَيْئًا ،  وَأَطْفِئُوا مَصَابِيحَكُمْ

Yang artinya :

"apabila waktu malam tela tiba, suruhlah anak-anakmu masuk rumah karena setan bertebaran pada saat itu. Kemudian, ketika berlalu waktu isya, suruhlah mereka tidur lalu tutuplah pintu rumahmu seraya membaca  bismillah dan matikanlah lampu rumahmu seraya membaca bismillah, kemudian tutuplah lubang tempat airmu seraya membaca bismillah dan tutuplah benjanamu dengan apa saja seraya membaca bismillah."



Dalam riwayat Bukhari. "Dan tutuplah makanan dan minumanmu kendatipun harus membentangkan kayu diatasnya." Sedangkan dalam riwayat Muslim adalah "Sesungguhnya setan tidak akan mendiami tempat airmu, tidak akan membuka pintu, dan tidak akan menyikap benjanayang tertutup."

Semoga bermanfaat bagi kita semua serta dapat memberikan wawasan kepada diri sekalian.



Kamis, 14 Desember 2017

Hukum Melafadzkan Niat Wudhu..




Melafadzkan Niat Ketika Berwudhu


Hasil gambar untuk orang melaksanakan wudhu


Apakah anda salah satu kaum muslimin yang ketika memulai wudhunya ia berkata "Nawaitul Wudhuua." sebagian lagi berkata, "Nawaitu faraaidhal wudhuui wa sunanihi." Perbuatan tersebut adalah keliru. Kita tidak perlu melaffadzkan niat kerena tempat niat adalah di hati dna niat maknanya adalah Al-Qashdu (bermaksud). Jadi, tidak ada faktor yang mengharuskan malafadzkan niat.

Bahkan, melafadzkan niat adalah perkara bid'ah karena hal itu merupakan tambahan dalam ibadah yang tidak ada dasar dalilnya dalam Al-Quran maupun sunnah. Tidak ada keterangan yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. melafadzkan niat ketika hendak berwudhu sekalipun.

Beliau bersabda, "Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada perintahnya kami, maka amalan tersebut tertolak." (sahih, diriwayatkan oleh Muslim, no. 1718, kitab Al-Aqdhiyyah, bab Naqdhul Ah-kaamil Bathilah Wa Raddu Muhadatsatil Umuur).



Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, " Melafadzkan niat adalah bid'ah (perkara yang diada-adakan dalam agama)." Ibnul Qayyim berkata, "Rasulullah saw. tidak pernah mengatakan apapun pada permulaan wudhunya. Aku berniat menghilangkan hadats dan tidak memperbolehkannya ketiak akan melaksanakan shalat, dan sama sekali tidak dilakukan oleh para sahabatnya, juga tidak ada riwayat satu huruf pun mengenai hal itu, tidak dengan sanad sahih maupun dhaif."






Rabu, 13 Desember 2017

Astaga Jangan Sampai memiliki 7 Karakter Binatang INi...!!!




INILAH TUJUH KARAKTER BINATANG PADA MANUSIA






JIKA ada makhluk yang diciptakan dengan sebaik-baik bentuk, maka itulah manusia (QS. 95: 4). Namun demikian, kebaikan bentuk itu tidak menjamin kebaikan budi, perangai terlebih akhlak. Semua kembali pada sang manusia itu sendiri. Jika iman yang diutamakan, insya Allah ia selamat dari sifat kebinatangan.


Namun, jika sebaliknya, maka seorang manusia akan memiliki sifat-sifat binatang yang hanya berorientasi materi dan kesenangan syahwat. Di Dalam Al-Qur’an paling tidak ada tujuh jenis binatang yang sifat-sifatnya bisa dimiliki manusia. Demikian diuraikan oleh Ahmad Yani dalam bukunya, ‘160 Materi Dakwah Pilihan.’



- Pertama, seperti anjing



Anjing sangat tunduk, patuh dan setia kepada siapapun yang memberi makan dan minum, meskipun dia seorang penjahat.



Manusia yang seperti anjing tidak mau tunduk kepada ayat-ayat Al-Qur’an yang telah diturunkan, dihalau atau tidak ia tetap akan menjulurkan lidahnya.




وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَـكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ذَّلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِآيَاتِنَا

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ



“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya _seperti anjing_ jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS: Al-A’raf: 176).





-Kedua, seperti binatang ternak



Binatang ternak tidak memiliki keistimewaan, nilai jualnya hanya terletak pada beratnya, sedang binatang peliharaan karena kelebihan atau keistimewaan.

Bila manusia seperti _binatang ternak,_ kedudukannya sudah begitu rendah dari binatang peliharaan (QS. 7: 179).



-Ketiga, seperti kera



Kera atau monyet adalah binatang yang serakah, keserakahan membuat orang-orang Yahudi melanggar ketentuan Allah.



وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَواْ مِنكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُواْ قِرَدَةً خَاسِئِينَ



“Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar diantaramu pada hari Sabtu lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu _kera_ yang hina.” (QS. Al-Baqarah: 65).



Ironisnya, setelah melakukan pelanggaran, mereka justru tidak merasa bersalah, malah membanggakan kesalahan yang telah dilakukannya.



-Keempat, seperti babi




Babi bukan hanya senang dengan kekotoran, tetapi juga tidak memiliki rasa cemburu, ia akan membiarkan perbuatan tidak senonoh yang dilakukan pihak lain terhadap keluarganya, begitulah bila manusia memiliki karakter babi dalam dirinya.



قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُم بِشَرٍّ مِّن ذَلِكَ مَثُوبَةً عِندَ اللّهِ مَن لَّعَنَهُ اللّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ أُوْلَـئِكَ شَرٌّ مَّكَاناً وَأَضَلُّ عَن سَوَاء

السَّبِيلِ



“Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu disisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan _kera dan babi_  dan (orang yang) menyembah thaghut ?”. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” [QS. Al-Maaidah: 60).



-Kelima, seperti laba-laba



Dalam hidup ini banyak manusia yang berlindung kepada selain Allah. Mereka membentengi diri dengan bangunan-bangunan yang mereka persenjatai diri dengan persenjataan canggih, bahkan ada yang melindungi dirinya dengan setan dengan jampi-jampi, jimat-jimat, isim-isim dan sebagainya.




مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاء كَمَثَلِ الْعَنكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتاً وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ


“Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah _seperti laba-laba_ yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (QS. Al Ankabut [29]: 41).



-Keenam, seperti nyamuk



Yaitu orang yang kelakuannya hanya mengganggu orang lain, sehingga tidak disukai manusia lainnya.

Mencari nafkah dengan menyakiti dan mengambil hak orang lain dan bila makan suka berlebihan hingga akhirnya mati karena kekenyangan (QS. Al-Baqarah: 26).

-Ketujuh, seperti keledai



Yaitu manusia bodo karena tidak konsekuen, ajaran yang datang dari Allah diyakini, tetapi diabaikannya.

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah _seperti keledai_ yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS: Al Jumu’ah [62]: 5).


Demikianlah tujuh jenis sifat binatang yang bisa menjadi tabiat dan watak manusia. Oleh karena itu, mari bentengi diri dan keluarga agar selamat menjadi makhluk Allah yang terbaik, sehingga selamat dari menjadi manusia berkarakter binatang.




Senin, 11 Desember 2017

Jangan Wudhu Pakai Air itu!! Sudah Bau tahu

Bolehkah Air Tergenang untuk Berwudhu



Apakah boleh kita bersuci (berwudhu) menggunakan air yang tergenang, dibiarkan tidak mengalir, berubah rasa, berubah bau, maupun warnanya, dan beraroma tidak sedap karena lama tergenang. Banyak yang beranggapan bahwa air tersebut tidak boleh digunakan. Namun pendapat yang benar adalah bahwa air tersebut suci dan diperbolehkan digunakan untuk berwudhu. Dengan demikian, sah hukumnya bersuci menggunakan air tersebut menurut ijma' (konsensus) para ulama.

Imam Al-Mundziri berkata, "Sepengetahuan kami semua ahli fiqih selain Ibnu Sirin telah sepakat bahwa berwudhu menggunakan air yang berubah rasa, berubah bau, serta warnanya namun tidak terkontaminasi kotoran maupun najis diperbolehkan." dalam hal ini diperbolehkan untuk bersuci dengannya (berwudhu).



perkara yang selanjutnya adalah sesuatu masalah yang paling banyak kita jumpai. Apakah pernah anda melihat kran yang rusak di mesjid. Nah inilah kesalahan yang banyak tersebar di setiap mesjid-mesjid, yaitu para pengurus mesjid tidak memperhatikan kerusakan kran air. Mereka membiarkan air mengalir setiap hari dan tidak mengindahkan nilai dari air yang hilang sia-sia. Sebagaimana kita ketahui bahwa Air adalah salah satu bukti nikmat Allah swt yang harus dijaga dan disyukuri dengan cara memelihara dan tidak membiarkannya terbuang percuma.



Hal ini merupakan salah satu tindakan yang menggambarkan bentuk dari kufur nikmat. Allah swt. berfirman, "Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran." (QS Ibrahim [14]: 28)



Lalu bagaimana hukumnya menggunakan air laut untuk berwudhu, kebanyakan dari kita beranggapan bahwa bersuci menggunakan air laut itu tidak diperbolehkan karena rasanya yang asin. Mereka beranggapan juga bahwa tidak boleh bersuci menggunakan air laut.

anggapan ini keliru karena air laut hukumnya suci. Hal tersebut berdasarkan pertanyaan seorang sahabat kepada Rasulullah saw, "Bolehkah berwudhu menggunakan air laut? Beliau menjawab, "ia (air laut) itu suci dan halal bangkainya."


Minggu, 10 Desember 2017

Jangan Dekat-Dekat!!! kamu sedang Junub nanti aku Kena Najis



Anggapan Bahwa Keadaan Junub Membuat Orang Lain Najis





Ada sebagian orang yang beranggapan bahwa orang yang sedang junub itu najis. Oleh karena itu, jika seseorang duduk disampingnya atau menyentuhnya, ia akan membuatnya menjadi najis. Anggapan tersebut keliru berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh enam ahli hadits bahwa Abu Hurairah ra. Ia berkata, "Aku pun pegi scara diam-diam lalu aku mandi kemudian aku kembali lagi menemui Beliau yang sedang duduk." Beliau pun bertanya, " Dari mana engkau, wahai Abu Hurairah." Ia menjawab, " " Aku sedang dalam keadaan junub dan aku tidak suka duduk bersamamhu dalam keadaan tidak suci." Beliau berkata, "Maha suci Allah! Wahai Abu Hurairah. Sesungguhnya seorang mukmin tidaklah najis."



Diriwayatkan juga oleh Muslim dari Abu Hurairah ra. ia berkata, "ketika Rasulullah saw. berada di masjid, beliau berkata, "Wahai Aisyah, bawakanlah pakaian untukku!' kemudian Aisyah berkata, "Aku sedang haid." Beliau bersabda " Sesungguhnya, haidmu bukan di tanganmu." Lalu Aisyah pun memberikan pakaian yang di minta oleh beliau.

Dalam hal tersebut dapat diketahui, bahwa seseorang yang sedang junub tidaklah najis untuk orang yang suci. jangan sampai karena hal tersebut akhirnya kita menyuruh orang agar tidak usah dekat-dekat karena takut terkena najis dari mereka.


Jumat, 08 Desember 2017

Hukum Memakan sesajen



HUKUM MAKAN SESAJEN


sesajen adalah makanan atau bunga-bungaan yang dipersembahkan kepada mahluk halus. kebiasaan masyarakat yang terpengaruh dengan ajaran Animisme, mereka memberikan makanan sesajen yang dipersembahkan kepada mahluk halus yang menurut kepercayaan mereka menjadi penunggu pohon, batu, atau tempat-tempat tertentu. lalu bagaimana hukum makan sesajen tersebut? hukum makanan sesajen harus dirinci terlebih dahulu.

pertama, jika makanan sesajen itu berupa daging dari sembelihan yang dipersembahkan kepada selain Allah, seperti daging ayam, daging kambing, daging sapi, yang ketika disembeli diniatkan untuk yang selain Allah seperti untuk jin penunggu pohon yang dikramatkan, maka jelas daging semacam ini hukumnya haram.

ini berdasarkan firman Allah SWT:
"sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembeli) disebut (nama) selain Allah. tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 173).
Ahalla artinya bersuara keras. orang-orang dahulu tatkala melihat bulan sabit yang muncul di awal bulan, mereka berteriak dan bersuara, maka akhirnya bulan sabit disebut dengan hilal, karena kemuncilannya selalu diiringi dengan suara-suara manusia yang menyambutnya. 


begitu juga bayi yang baru lahir kemudian menangis disebut dengan Istahalla ash-shibuyyu, karena ketika lahir, bayi tersebut mengeluarkan suara tangisan. maka yang dimaksud dengan wama uhilla bihi li ghairillah, pada ayat adalah apa-apa dari binatang ternak ketika disembelih disebut nama selain Allah atau dipersembahkan kepada selain Allah. ini berlaku hanya khusus pada binatang yang disembelih.

kedua, jika makanan sesajen itu berupa buah-buahan seperti pisang, mangga, jeruk, atau berupa makanan lainnya seperti nasi, tahu, tempe, selain daging dari hewan yang disembelih untuk selain Allah, maka hukumnya boleh dimakan, karena tidak ada dalil yang mengharamkannya dan tidak termasuk dalam ketegori apa yang dipersembahkan kepada selain Allah.

syekh Abdul Aziz bin Baz mantan Mufti Saudi Arabia, pernah berpendapat bahwa makanan yang dipersembahkan kepada selain Allah selain daging hasil sembelihan, boleh dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. bahkan beliau pun membolehkan mengambil binatang-binatang ternak yang belum disembelih, jika memang sudah ditinggalkan oleh pemiliknya.


Terus Bagaimana Hukum Makanan Dalam Acara Hari Kematian


jika makanan tersebut berupa daging sembelihan, maka dirinci juga: jika diniatkan karena Allah, maka hukumnya halal, karena daging tersebut tidak dipersembahkan kepada selain Allah, melainkan untuk menghormati tamu yang datang pada acara tersebut, dan ini sering diakui oleh orang-orang yang punya hajat dalam acara tersebut. tetapi jika benar-benar ada sebagian yang ketika menyembelih meniatkan untuk arwah orang yang meninggal, maka status daging tersebut menjadi haram.

namun bukankah acara memperingati kematia seseorang tersebut tidak ada tuntutan dari Rasulullah, bukankah orang yang memakanan makanan yang disuguhkan berarti telah menyetujui dan mendukung acara yang tidak ada tuntutannya, berarti hukumnya haram memakan makanan tersebut.

Baca juga : Keutamaan berinfaq

pertama, tidak semua orang yang ikut makan setuju dengan acara tersebut, karena terkadang dia hanya mendapat kiriman makanan dari tetangganya, walaupun dia tidak ikut acara tersebut, bahkan barangkali dia menentang acara tersebut.

kedua, harus dibedakan antara dzat makanan yang pada dasarnya halal, dengan sebuah acara bid'ah yang tidak ada tuntutannya dari Rasulullah. keduanya tidak saling berkaitan. bukankah anda tidak setuju dengan orang jepang yang menyembah matahari atau tidak beragama, tetapi tetap saja anda membeli mobil yang diproduksinya? apakah membeli mobil yang diproduksi orang kafir, berarti kita setuju dengan kekafiran mereka? tentu saja tidak ada kelaziman antara keduanya.

Bagaimana Hukum Makanan dari Perayaan Natal?

jika makanan tersebut bukan masuk dalam katagori ritual agama mereka, atau bukan untuk dipersembahkan kepada selain Allah yang berupa daging dan sejenisnya, maka dikembalikan kepada hukum asalnya yaitu halal. karena kebanyakan makanan tersebut kebanyakan disuguhkan untuk orang-orang yang datang ke gereja, bukan bagian dari ritual mereka itu sendiri.

Baca juga : Dasyat nya sholat dhuha

jika makanan itu berupa daging yang dipersembahkan kepada selain Allah, maka hukumnya haram. didalam Mushonnaf Abdurrozaq disebutkan bahwa:
"suatu ketika seseorang perempuan bertanya kepada Aisyah, seraya berkata, "kami mempunyai teman orang-orang Majusi, mereka mempunyai hari raya, dimana pada hari itu biasa mereka memberikan hadiah kepada kami."berkata Aisyah, "adapun daging dari sembelihan pada hari itu (yang dipersembahkan kepada selain Allah), maka janganlah kalian makan, tetapi makanlah yang berasal dari pohon-pohon mereka (yang bukan sembelihan)."

dari Abu Barza, beliau mempunyai tetangga orang-orang Majusi. pada hari raya mereka, yaitu Nairuz dan Mahrajan, mereka memberikan hadiah kepadanya maka beliau menasihati keluarganya, "yang berupa buah-buahan maka makanlah, selain itu kembalikan pada mereka."

demikianlah hukum dalam makan sesajen, semoga bermanfaat dan berguna bagi anda, agar dapat menjadikan kita sebagai insan idaman banyak orang bahkan hingga penghuni langit... amiin.


Pengertian SUkses dalam islam dan barat...


A. Sukses dalam Pandangan Modern (Barat)




Sebelum menentukan standar kesuksesan menurut pandangan dunia modern atau barat, perlu diketahui terlebiiih dahulu cara pandang dan gaya hidup mereka. Diakui atau tidak, kemajuan Barat sepertinya ini tidak dapat dilepaskan dari akar histori yang cukup panjang. Mereka maju bukan tanpa berkaca pada sejarahnya pada msa lampau. Akan tetapi, masa lampau yang demikian suramlah yang telah menjadikan mereka seperti yang sebagian besar manusia bangga-bangga hingga kini.

Awal kemajuan bangsa Barat adalah pada saat mereka mengedepankan akal. Akal dijadikan pemimpin dalam menuntun kehidupannya setiap hari. Bahkan, dampak kecenderungan yang jelas bahwa akal menjadi Tuhan baru dalam kehidupan mereka. Karena akal bersifat materi maka secara otomatis ukuran yang dijadikan patokan dalam melakukan penilaian berbagai hal adalah materi. Dari pemikiran itulah, muncul istilah-istilah yang sering didengar, seperti materialime, positivisme, dan fragmatisme.

Dengan demikian, maka ukuran dan standar kesuksesan menurut masyarakat Barat adalah manakala seseorang telah memiliki simpanan uang di bank yang banyak, tanah yang luas, mobil yang mewah, rumah yang megah, dan hal-hal lainnya yang bersifat indrawi atau fisik. Apabila hal-hal fisik belum dimiliki maka belum tergolong ke dalam orang yang sukses menurut pandangan mereka.

orientasi kesuksesan yang dipahami barat adalah dapat berhasil di dunia. Setiap yang diinginkan di dunia ini dapat terwujud maka hal tersebut mengindikasikan bahwa dirinya telah mengalami kesuksesan. Kesuksean versi barat tidak pernah mempertanyakan cara meraihnya (prosesnya), tetapi yang dijadikan ukuran adalah hasil akhir. Dengan kata lain, silahkan anda bebas berbuat yang anda sukai dengan beragam cara. Akan tetapi, anda harus berhasil meraihnya.



Dalam istilah lain, sikap yang ditempuh orang-orang barat dalam mencapai tujuan dengan beragam cara atau menghalalkan segala cara disebut dengan machiavelisme. orang yang menganut paham terebut disebut dengan machiavelis. Dia akan melakukan beragam cara tanpa pernah sedikitpun memikirkan baik dan buruk, dampak tehadap orang lain, dan aturan-aturan yang berlaku lainnya. 

Seorang machiavelis sejati bukanlah yang selalu memilah dan memilih sesuatu yang akan diraihnya. Sikap penghalalan segala cara diempuh bukan tehadap urusan-urusan materi, melainkan hal-hal imateri pun sangat mungkin dilakukan. Misalnya, keinginan menjatuhkan citra baik seseorang menjadi buruk. Padahal, secara materi perbuatan tersebut tidak memberikan keuntungan kepada dirinya. Akan tetapi, itulah seorang machiavelis. Dia bukan lagi berbicara keuntungan materi, melaikan dirinya menghendaki suatu tujuan tertentu. Baik bernilai materi maupun tidak, maka segala upaya dan cara akan ditempuh untuk mewujudkannya. Dalam hal ini, menjatuhkan citra seseorang yang asalnya baik di hadapan semua orang menjadi buruk karena usaha jahatnya tersebut.


Kini, fenomena dimikian tidak hanya dimiliki oleh  mereka yang berasal dari barat. Akan tetapi, telah merasuki pikiran dan jiwa sebagian umat islam yang tidak sadar dan paham pada jati dirinya sebagai seorang muslim yang terikat dengan ajaran dan aturan Illahi. Munculnya sikap menghalalkan segala cara yang dilakukan oleh manusia modern, baik di antara umat islam maupun umat di luar islam bersumber dari sikap hidup hedonistik .  Budaya hidup hedonistik adalah gaya hidup yang di tempuh dengan dasar kepuasan. Semua hal yang dimiliki ingin dirasakan dengan sepuas-puasnya tanpa terkecuali dan tanpa batas.



B. Sukses dalam Pandangan Islam

Setiap penilaian yang dibuat oleh seseorang pastilah tidak akan pernah sama dengan orang laiin terhadap suatu objek. Hal tersebut banyak faktor yang melatarbelakanginya. Diantara faktor tersebut adalah sudut pandang. Sebagai analogi sederhana, sebuah meja yang dihadapi oleh empat orang dari empat sudut yang berbeda maka akan melahirkan pandangan yang bermacam-macam jika mereka ditanya sesuatu yang dilihat pada meja tesebut. Bahkan, perbedaan yang terjadi tidak hanya itu. Jika mereka berempat berada pada satu sudut saja dalam melihat meja, penilaiannya pun belum tentu sama antara satu dan lainnya. Itulah yang kemudian dikenal dengan perspektif.


Terkait dengan pandangan kesuksesan yang tengah dibicarakan, pada bagian yang lalu telah disampaikan pandangan kesuksesan menurut sudut pandang barat. Berikutnya, suatu kesuksesan dapat dipandang dengan sudut padang lainnya, yaitu Islam. Pastilah, hasil sudut pandang tersebut akan berbeda dengan sebelumnya karena barat dan islam merupakan dua kutub yang berbeda.



1. Sukses Materi dan Imateri

Apabila barat melihat kesuksesan secara materi maka Islam tidak menafikkan hal tersebut. Akan tetapi, hal materi bukanlah menjadi tujuan yang pokok. Keberhasilan seseorang dengan melihat aspek materi merupakan hal lumrah dan umum sifatnya. Namun, ketika hal tesebut dikaitkan dengan yang bersifat imateri maka akan menjadi unik dan dalam maknanya. Demikianlah islam memandang suatu kesuksesan . Bahkan, tidak jarang kesuksesan yang dimaksud dalam islam dapat mengalahkan salah satunya, yaitu sisi-sisi materi. Artinya, sekalipun seseorang di dunia tidak meraih kesuksesan materi (dunia) karena ketakwaan yang dipegang secara konsisten maka dia akan meraih kesuksesan imateri kelak di akhirat.

Pandangan ajaran Islam dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu memiliki makna yang sangat dalam dan berimplikasi menembus ruang dan waktu. Terkadang, hal-hal yang ditetapkan dalam ajaran Islam, melalui wahyu atau sabda Rasul, tidak dapat diijangkau dengan akal manusia. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu maka semua jawaban tersebut terungkap dengan sendirinya.
Berkaitan dengan sifat dan ciri kesuksesan yang ditetapkan dalam ajaran Islam, cukup banyak hal yang dapat ditelusuri kenyataannya pada sabda-sabda Rasul. Misalnya, pada suatu kesempatan bersama para sahabat, Rasulullah saw. melemparkan suatu pertanyaan.


"Tahukah kalian siapakakh oang yan bangkrut itu?" Tanya Rasul. lalu, dengan spontan diantara sahabat banyak yang berkata,

"Wahai Rasul, menurut kami orang yan bangkrut adalah orang yang sudah tidak memiliki dinar dan dirham." Kemudian, jawaban-jawaban mereka segera ditanggapi oleh Rasul dengan mengatakan.

"Bukan seperti itu." 

Lalu, beliau melanjutkan bahwa seseorang yang mengalami bangkrut adalah dia yang akan menghadap Allah pada hari penghisapan dengan membawa sejumlah amal shaleh, seperti shalat, zakat, saum, dan sebagainya. Akan tetapi, pada saatt yang bersamaan, dia juga membawa amalan-amalan buruknya. Misalya, ketika hidup pernah menganiaya saudaranya, menzalimi, menumpahkan darah (membunuh yang tidak dibenarkan), menuduh, memfitnah, dan sebagainya.


Kemudian, Rasul melanjutkan penjelasannya tersebut. Ketika berada pada persidangan Allah maka datanglah orang-orang yang pernah memjadi korban dari kejahatannya. Mereka meminta keadilan dan balasan yang setimpal. Lalu, amal--amal kebaikan yang dibawanya tadi dijadikan semacam penebus terhadap dosa-dosa yang dilakukannya. Satu persatu amalan baik tersebut berkurang hingga akhirnya tidak ada yang tersisa. Padahal, amalan keburukannya masih banyak lagi. Hal itu ditandai dengan masih banyak orang yang meminta keadilan dan pertanggung jawaban kepadanya. Kemudian, Allah swt. menetapkan keputusannya bahwa si hamba ynag habis amal shalehnya tersebut harus disiksa dalam neraka sebagai balasan dari keburukannya yang masih banyak. itulah yang dimaksud dengan bangkrut.

Dalam kisah tersebut, tampak jelas bahwa standar kesuksesan yang ditetapkan ajaran Islam sangat berbeda yang dibayangkan manusia. Penilaian dan pemaknaannya demikian dalam, sehingga tidak ada di antara para sahabat yang menduga bahwa yang dimaksud bangkrut dalam pandangan ajaran Islam adalah seperti yang elah dikemukakan dan dijelaskan Rasulullah saw. tersebut.

2. Memperhatikan Proses yang Dilakukan

Selain itu, ciri lain dari standar kesuksesan dalam pandangan Islam adalah memerhatikan proses dan tidak  melihat pada hasil akhir. Hasil akhir dari sebuah usaha bukanlah segalanya atau yang sangat menentukan bahwa usaha yang dilakukannya sungguh-sungguh dan sesuai dengan aturan yang ada. Dalam tradisi barat, hasil akhir merupakan hal yang sangat penting dan pokok sifatnya. Bahkan dari hasil itulah, orang-orang yang biasa memakai pola pikir barat dapat menyimpulkan bahwa usaha yang dilakukan dalam meraihnya merupakan usaha yang maksimal dan sungguh-sungguh. Mereka tidak pernah mempersoalkan bagaimana cara yang ditempuhnya, apakah sesuai dengan aturan yang ada atau justru sebaliknya.

Dalam sebuah hasil akhir, peran Allah swt. sangat menentukan sekalipun tidak sedikit di antara manusia yang memiliki perhitungan bahwa ketercapaian menuju kesuksesan telah mencapai 99.9%. Akan tetapi, Allah menghendaki lain ddari tujuan yang diharapkan manusia, pastilah akan berubah walaupun persentasenya sangat sedikit.

Allah swt. mengajari kita untuk berusaha semaksimal mungkin dalam meraih segala hal. Namun, usaha tersebut harus pula memerhatikan rambu-rambu yang telah ditetapkan-Nya. Dengan demikian, sekali pun hasil yang diraih berbeda dengan apa yang diharapkan, tetapi Allah akan membalas usaha yang dilakukannya.